Waduh, tanpa terasa sudah sangat lama sekali saya tidak menulis di blog ini karena kesibukan yang lain. Kesibukan yang membuat fikiran untuk membuat tulisan tidak tereksplor. Nah, untuk itu saya memulai menulis lagi tentang kisah fiktif tapi mudah-mudahan bisa dicerna dengan baik oleh yang membacanya. Kisah tentang kemuliaan orang yang tidak dilihat dari harta, jabatan kekuasaan pendidikan dan lainnya. Begini kisahnya.
Seorang ibu sedang menunggu anaknya yang baru pulang dari luar negeri menuntut ilmu pendidikan tingginya yang sudah beberapa tahun dijalaninya. Ketika menunggu anaknya beliau berbincang dengan orang yang juga sedang menunggu kedatangan keluarganya yang lain.
“Ibu sedang menunggu siapa?” tanya orang tadi.
“Saya sedang menuggu anak bungsu saya yang baru pulang menyelesaikan pendidikan S2nya di Jepang.” jawab beliau.
“Ohh, begitu yaa, wah ibu hebat sekali memiliki anak yang berprestasi, lalu anak ibu yang lain?” tanya beliau lagi.
“Anak ketiga saya seorang dokter spesialis bedah plastik di sebuah rumah sakit, dan anak kedua saya seorang staf kedutaan besar di mesir.” jawab beliau lagi.
“Subhanallah sungguh luar biasa ibu mendidik anak, lalu bagaimana anak pertama ibu? tanya orang itu penasaran.
“Anak saya seorang petani di kampung kami” jawab ibu itu dengan haru.
“Loh kok bisa, anak ibu yang lainnya berpendidikan tinggi sedangkan anak ibu yang pertama hanya seorang petani?” tanya orang itu semakin penasaran.
dengan bangganya ibu tadi menjawab, “Justru anak saya yang pertama inilah yang paling hebat, bagaimana tidak ketika kami semua di tinggal oleh bapak, dialah yang menjadi tulang punggung kami semua. Dialah yang membiayai pendidikan adik-adiknya yang lain dengan bekerja sebagai petani.” jawab beliau dengan mata yang berkaca-kaca
-Rudy Dwi Wahyusyah- untuk seluruh keluargaku tercinta.
0 Responses to “Kemulian tidak dilihat dari harta (Anakku yang pertama hanya seorang petani)”